| Start: | Nov 23, '08 08:00a |
Memiliki anak yang cerdas secara spiritual, emosionl, dan intelektual adalah dambaan bagi setiap orngtua. Kecerdasan anak sangat dipengaruhi oleh kondisi keluarga tempat anak dibesarkan. Tak bisa dipungkiri, munculnya berbagai persoalan rumah tangga dan kehidupan yang makin rumit seringkali memicu konflik di antara suami-istri; mulai dari ‘sekedar’ pertengkaran hebat hingga perselingkuhan dan perceraian. Konflik orangtua sudah pasti akan memberikan dampak negatif bagi perkembangan jiwa anak. Anak yang dibesarkan di tengah konflik orangtua, umumnya rapuh, rawan depresi, tidak cerdas, dan lemah dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan.
Lalu, bagaimana jika saat ini, Anda sudah terlanjur berkonflik dengan pasangan Anda, atau sudah hampIr memutuskan bercerai, atau bahkan sudah bercerai, atau sedang berada dalam guncangan kehidupan yang rumit sehingga sangat sulit memfokuskan diri pada pendidikan anak? Bagaimanakah teknik mendidik anak dalam kondisi yang sulit agar kita bisa tetap bersemangat, kuat, dan hebat dalam mempersiapkan anak kita menjadi generasi yang cerdas dan tangguh? Dan bagaimana menyikapi konflik antara suami-istri agar anak tidak terguncang?
Temukan jawabannya dalam Kajian Keluarga yang diselengarakan oleh Kembaga Kajian dan Pencerahan Pemikiran Perempuan (LK3P) dengan tema: “Keluarga Bahagia, Anak Cerdas”.
Minggu 23 November 2008 (08.30-11.00)
Hotel Panghegar (Bale Parahyangan) Jl. Merdeka no.2 Bandung
Pembicara:
1. Dra. Yuli Suliswidiawati M.Psi
2. Prof.Dr.KH Jalaluddin Rakhmat
3. Dhiya Tazkiya (pelajar kls 3 SMP: membahas'perselisihan ortu di mata anak')
Tiket Rp100.000 (pemesanan sebelm 20 Nov discount 20%)
CP: Nita 0856-2286-707 Iis 022-70937-583 Yati 0813-2126-8167 Dinny 0812-2166-715